Majene; Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) turut berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia Berkiblat: Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Qiblat yang dilaksanakan pada 15 dan 16 Juli 2026 di beberapa lokasi di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Kegiatan nasional tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ketepatan arah kiblat di masjid, musala, rumah, dan tempat ibadah lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Prodi HKI terlibat secara langsung dalam pengamatan dan verifikasi arah kiblat menggunakan metode rashdul qiblat. Metode ini memanfaatkan posisi Matahari dan arah bayangan benda pada waktu tertentu untuk menentukan arah kiblat secara astronomis. Ketika fenomena rashdul qiblat terjadi, bayangan benda yang berdiri tegak dapat digunakan sebagai garis acuan menuju arah Ka'bah.
Partisipasi mahasiswa menjadi bentuk penerapan ilmu falak dan hukum Islam yang telah dipelajari selama proses perkuliahan. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa dalam melakukan pengamatan, verifikasi, dokumentasi, dan edukasi mengenai arah kiblat kepada masyarakat.
Sebagai bentuk pengakuan atas keterlibatan dalam kegiatan nasional tersebut, setiap mahasiswa yang berpartisipasi memperoleh sertifikat kegiatan. Sertifikat ini menjadi bukti keikutsertaan mahasiswa sekaligus bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam mendukung pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat Tahun 2026, yang ditanda tangani langsung secara elektronik Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama RI Bapak Dr. H. Arsad Hidayat, Lc, MA.
Keterlibatan mahasiswa Prodi HKI menunjukkan bahwa pembelajaran Hukum Keluarga Islam tidak hanya membahas persoalan perkawinan, kewarisan, dan kehidupan keluarga. Kajian HKI juga berkaitan dengan praktik keagamaan yang memerlukan integrasi antara ketentuan syariat, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan sosial masyarakat.
Berdasarkan data rekapitulasi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Majene, jumlah pendaftar Program Gerakan Nasional Rashdul Qiblat Kementerian Agama Tahun 2026 di Provinsi Sulawesi Barat mencapai 11.202 pendaftar, dengan rincian sebagai berikut:
| Kabupaten | Jumlah Pendaftar | Persentase |
|---|---|---|
| Mamuju Tengah | 3.925 | 98,13% |
| Mamuju | 3.517 | 78,16% |
| Polewali Mandar | 1.184 | 19,73% |
| Mamasa | 1.089 | 66% |
| Majene | 1.061 | 23,58% |
| Pasangkayu | 426 | 10,65% |
| Total Sulawesi Barat | 11.202 |
Sumber data: Bimas Kementerian Agama Kabupaten Majene, Rabu, 15 Juli pukul 14.00 Wita.
Data tersebut menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat Sulawesi Barat dalam gerakan verifikasi arah kiblat. Kabupaten Mamuju Tengah mencatat jumlah pendaftar tertinggi, yaitu 3.925 orang, disusul oleh Kabupaten Mamuju dengan 3.517 orang. Sementara itu, Kabupaten Majene mencatat 1.061 pendaftar atau 23,58%.
Pelaksanaan kegiatan di beberapa lokasi di Kabupaten Majene menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya pengukuran arah kiblat dengan metode yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode rashdul qiblat membantu masyarakat memeriksa kembali orientasi arah kiblat tanpa hanya bergantung pada perkiraan arah mata angin atau kompas yang dapat dipengaruhi oleh medan magnet.
Melalui kegiatan Indonesia Berkiblat 2026, mahasiswa Prodi HKI diharapkan mampu mengembangkan kemampuan akademik, teknis, dan sosial dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat. Partisipasi ini juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, Kementerian Agama, pengurus masjid, dan masyarakat dalam mewujudkan arah kiblat yang tepat berdasarkan kajian ilmu falak serta ketentuan syariat Islam. (IDN/17/7/26)